Duh, Lamaran Ditolak Karena Miskin, Pemuda Ini Nekat Bilang “Izinkan Saya Berzlna Dengan Anakmu”

by

Ibu Gadis : mungkin.

Pemuda : Hmm.

Ibu Gadis : kenapa?

Pemuda : Oh, tidak apa – apa bu. Pertanyaan terakhir, apakah dia rajin sholat?

Ayah Gadis : Apa maksud kamu tanya semua ini !? Kamu kan temannya sejak di sekolah. Harusnya kamu sudah tahu.

Pemuda : Maaf Bapak dan Ibu, Saya rasa dia tak bisa masak, tak bisa sholat, tak bisa mengaji, tak bisa menutup aurt dengan baik. Sebelum dia menjadi istri saya, dosa-dosanya juga akan menjadi dosa bapak dan ibu. Lagipula tak pantas rasanya dia dihargai Rp.40.000.000,-. Kecuali dia hafidz Qur’an 30 juz dalam kepala, pandai menjaga aurrat, diri, dan batasan-batasan agamanya. Barulah dengan mahar Rp.100.000.000,-pun saya usahakan untuk membayar.
Tapi jika segala sesuatunya tidak harus dibayar mahal mengapa harus dipaksakan untuk dibayar mahal ? Seperti halnya mahar. Sebab sebaik-baik pernikahan adalah serendah-rendah mahar.

Baca Juga:  Kasihan! Pria Ini Menangis di Malam Pertama. Alasannya Bikin Orang yang Mau Menikah Jadi Mikir, Ternyata..

Mata ayah si gadis direnung tajam oleh mata ibu si gadis. Keduanya diam tanpa suara.

Sekarang ketiganya menundukkan kepala. Memang sebagian adat menjadikan anak perempuan untuk dijadikan objek menunjukkan kekayaan dan bermegah-megah dengan apa yang ada, terutama pada pernikahan.

Adat budaya memang kerap mengalahkan perkara agama. Para orang tua membiarkan bahkan menginginkan anak perempuan dihias dan dibuat pertunjukkan di muka umum.

Loading...

Sedangkan pada saat akad telah dilafadz oleh suami, segala dosa anak perempuan sudah mulai ditanggung oleh si suami.

Ayah Gadis : Aku hanya ingin anakku bahagia dengan merasakan sedikit kemewahan. Hal seperti tu kan hanya terjadi sekali seumur hidup.

Baca Juga:  MasyaAllah, Bocah 8 Tahun Ini Pilih Jadi Mualaf, Alasannya Bikin Merinding!

Pemuda : Bapak ingin anak bapak merasakan kemewahan?

Ibu Gadis : tentulah kami berdua pun turut gembira.

Pemuda : sungguh demikian? boleh saya sambung lagi? bapak, ibu.. saya bukanlah siapa – siapa. Sekarang dosa anak Bapak, Bapak juga yang tanggung. Esok lusa setelah akad nikah terus dosa dia saya yang tanggung.

Belum lagi pasti bapak dan ibu ingin kami bersanding lama di pelaminan yang megah, anak Ibu dirias dengan riasan secantik-cantik­nya dengan make up dan baju paling mahal, di hadapan ratusan undangan agar kami terlihat mewah pula.

Salain setiap mata yang memandang kami akan mendapat dosa. Apakah begitu penting hal tersebut jika dalam kehidupan sehari-hari kita malah berusaha untuk hidup sesederhana mungkin tanpa berlebih-lebihan.

Loading...
close
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *